Dahulu, banyak orang yang memandang remeh terhadap usaha ternak Domba Garut, karena belum lazim ditekuni dibandingkan dengan sapi dan kambing. Pun, budidaya Domba Garut memerlukan modal yang lebih besar dibandingkan ternak jenis lain. Namun, keadaan berbalik pada beberapa tahun terakhir di mana budidaya Domba Garut menghasilkan omzet sangat menggiurkan.

Dengan semua bagian tubuh yang dapat dimanfaatkan, Domba Garut kemudian mengalahkan nilai ekonomi dari sapi maupun kambing. Terutama harga jual per ekor yang dapat mencapai puluhan juta rupiah. Para pebisnis yang menyadari peluang pun berbondong-bondong merintis usaha ternak Domba Garut. Sementara itu, agar peternakan berhasil, berikut cara budidaya yang tepat.

 

  1. Pemilihan bibit ternak
bibit domba terbaik

Dalam usaha budidaya domba, maka pemilihan bibit menjadi tahapan awal yang sangat penting. Bibit yang dipilih sebagai indukan harus bebas dari penyakit, memiliki kemampuan tumbuh kembang yang bagus, tingkat kesuburan untuk reproduksi tinggi, serta tidak memiliki cacat fisik. Dengan memilih bibit yang baik, maka anakan domba nantinya menjadi jenis unggul.

  1. Perkawinan ternak

Peternak harus memerhatikan dengan seksama fase kawin dari indukan hewan ternak, terutama yang memang dijadikan sebagai indukan. Hewan-hewan ternak tersebut harus dikawinkan saat yang tepat, di mana mencapai puncak berahi antara usia 6 – 12 bulan. Peternak diharuskan mengenali ciri-ciri ternak yang tiba waktunya kawin agar proses reproduksi ternak berjalan lancar.

  1. Kelahiran ternak

Dalam masa kurang lebih lima bulan, indukan betina akan mencapai masa kelahiran. Hal tersebut dapat ditandai dari ciri fisik di mana perut domba tersebut tampak turun dan mendekati organ reproduksi serta frekwensi kencing yang meningkat. Bila sudah menunjukkan tanda-tanda demikian, peternak harus segera menyiapkan lokasi yang bersih untuk domba melahirkan.

Bersih yang dimaksud adalah tidak adanya kotoran di sekeliling lokasi yang berpotensi mengandung kuman di mana dapat berbahaya bagi indukan maupun anakan domba. Disarankan pula untuk memberi alas kering yang terbuat dari bahan cukup lembut, seperti goni. Setelah melahirkan, tepat di titik tali pusar dipotong dioleskan yodium untuk menghindari infeksi.

  1. Proses pemanenan

Untuk panen yang dapat dilakukan setiap hari tentunya adalah susu domba yang dapat diperah setiap pagi atau sore hari. Sedangkan dalam memanen daging dan bulu dari domba, perlu dilakukan beberapa persiapan guna memaksimalkan hasil yang didapat agar memenuhi kualitas tertinggi dan menghasilkan keuntungan materiil yang memuaskan.

  • Tahap persiapan

Di sini, sebelum dipotong dagingnya, ternak harus mendapat cukup istirahat. Hal itu akan membuat daging domba lebih lunak, sehingga proses pemotongan pun akan lebih mudah. Proses yang cepat akan mengurangi resiko penyebaran kuman pencemar yang dapat menimbulkan penyakit bagi konsumen akhir. Rasa sakit yang diderita ternak juga harus sesedikit mungkin.

  • Tahap pengulitan

Pengulitan domba disarankan menggunakan alat tumpul yang memiliki resiko rendah dalam merusak bentuk utuh kulit ternak tersebut sehingga hasil akhirnya dapat masuk dalam kualitas grade A. Setelah dikuliti, kulit dicuci sampai bersih menggunakan sikat dan sabun untuk menghilangkan bekas noda maupun kuman yang mungkin masih menempel lalu dijemur membentang.

  • Tahap pemotongan daging

Proses ini harus dilakukan dengan cepat dan benar agar kuman tidak berkembang hingga mencemari daging domba. Teknik pemotongan harus tepat, yaitu dengan membelah tubuh ternak menjadi dua bagian, lalu dipotong per organ. Pemotongan itu sendiri juga turut mempengaruhi tingkat ketahanan daging.

Cara Budidaya Domba Garut Secara Umum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *